Pertanyaan

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menyuruh teman saya untuk berkerudung agar auratnya tertutup tetapi ia menolak dan berkata “untuk berkerudung itu butuh proses, tidak bisa di paksakan, harus sesuai keinginan hati”, dan kenyataannya sampai sekarang ia masih belum menutup auratnya. Saya juga pernah mendengar seorang penceramah di televisi berkata “memang untuk menutup seluruh aurat bagi perempuan itu tidak mudah dan butuh proses, tetapi harus tetap dilakukan kerena wajib. Ya minimal diawali dengan memakai celana dan baju panjang…”.

Yang ingin saya tanyakan, apakah menutup aurat bagi kaum hawa (berhijab) itu wajib dan benar-benar harus dilakukan? Atau memang memakai kerudung/berhijab itu harus sesuai keinginan hati orang yang memakainya dalam artian tidak ada paksaan dari orang lain? Dan apa yang harus saya lakukan agar teman saya mau untuk menutup auratnya? Tolong penjelasannya.

(Moch. Fiqri Rafiana Shiddiq, mahasiswa FPIK  kelas P03  tahun 2014, NIM 135080201111122)

 

Jawaban

Alhamdulillah, Wassholatu Wassalamu ‘Ala Muhammad Rasulillah.

 

Wanita wajib menutup aurot, dan ini adalah perintah Allah, Rabbul ‘Alamin, sang Penguasa jagat raya. Bukan perintah Ustadz, Kyai, syaikh, dosen, guru, orang tua, kekasih, atau teman. Allah berfirman;

{وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا } [النور: 31]

janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (An-Nur; 31)

 

 

hal ini bermakna, hendaknya wanita janganlah secara sengaja berusaha menunjuk-nunjukkan dan memamerkan bagian tubuhnya untuk memikat lawan jenisnya, baik itu rambut, leher, lengan, betis, apalagi paha, dan aurot-aurot besar.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud “perhiasan yang biasa tampak”  itu hanyalah wajah dan telapak tangan. Artinya, wanita wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dalam tafsir At-Thobari, disebutkan ucapan Ibnu Abbas sebagai berikut;

تفسير الطبري = جامع البيان ط هجر (17/ 259)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَوْلُهُ: {وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] قَالَ: ” وَالزِّينَةُ الظَّاهِرَةُ: الْوَجْهُ، وَكُحْلُ الْعَيْنِ، وَخِضَابُ الْكَفِّ، وَالْخَاتَمُ؛ فَهَذِهِ تَظْهَرُ فِي بَيْتِهَا لِمَنْ دَخَلَ مِنَ النَّاسِ عَلَيْهَا “

Dari Ibnu Abbas ketika beliau menafsirkan ayat janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (An-Nur; 31)

Beliau menjelaskan: Perhiasan yang (biasa) nampak adalah wajah, celak mata, lukisan Henna pada tangan, dan cincin. Ini yang kelihatan di rumahnya bagi orang yang bertamu menemuinya. (Tafsir At-Thobari. Vol.17, hlm 259 )

 

Secara khusus, wanita juga diperintahkan memakai kerudung  yang menutupi rambut kepala, leher, dan celah pakaian di atas dada. Allah berfirman;

{وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} [النور: 31]

hendaklah mereka memasang kain kerudung sampai ke dadanya (An-Nur; 31)

 

Asy-Syaukani mejelaskan dalam Tafsirnya;

فتح القدير الجامع بين فني الرواية والدراية من علم التفسير (4/ 34)

والخمر جمع خمار وهو ما تغطي به المرأة رأسها

 

“Khumur dalam ayat tersebut adalah jamak Khimar, yakni sesuatu (kain) yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya” (Fathul Qodir. Vol.4, hlm 34)

 

Dalam ayat yang lain Allah juga memerintahkan memakai pakaian yang longgar, tidak ketat dan diulurkan. Dengan pakaian tersebut maka tidak ada kesempatan bagi wanita memamerkan keseksiannya. Allah berfirman:

 

{يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ} [الأحزاب: 59]

 

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. (Al-Ahzab; 59)

 

Dalam tafsir Jalalain dinyatakan;

تفسير الجلالين (8/ 103)

جَلَابِيبهنَّجَمْع جِلْبَاب وَهِيَ الْمُلَاءَة الَّتِي تَشْتَمِل بِهَا الْمَرْأَة

 

Jalabib adakah bentuk Jamak Jilbab, yakni pakaian longgar yang digunakan wanita untuk berselubung/menutup tubuhnya (Tafsir Jalalain. Vol.8, hlm 103)

 

Jadi jelaslah, bahwa wanita muslimah wajib menutup aurot dengan sempurna. Melaksanakan perintah menutup aurot adalah bagian kesempurnaan dalam menjalani dien Islam bagi wanita. Jika ada muslimah yang belum sanggup menutup aurot, maka persoalannya –umumnya- hanyalah karena belum faham, atau iman belum benar-benar merasuk dalam hatinya. Karena itu, mendakwahi secara terus menerus adalah langkah yang direkomendasikan. Wallahu’alam.